arfi's posts with tag: catatan hati

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag catatan hati

Sebagai negara yang memiliki panorama yang indah, manusia Indonesia sudah selayaknya dan seharusnya mampu merawat dan memelihara elemen-elemen keindahan itu sendiri. Memelihara alam di lingkungan rumah sendiri merupakan langkah awal untuk merawat keindahan Indonesia. Memperhatikan sudut-sudut alam di halaman rumah sendiri juga merupakan kebijakan natural yang selayaknya menjadi pola kebijakan pemeliharaan alam, sehingga serangga-serangga yang berguna dapat melanjutkan pola hidupnya dengan aman.



Kupu-kupu, misalnya. Seberapa dari kita yang tidak menyukai kupu-kupu? Dari berbagai warna, setiap orang pasti mengagumi keindahan kupu-kupu. Namun, seberapa besar dari para pengagum ini menyadari kalau beberapa persen dari mereka telah menghambat bahkan merusak habitat kupu-kupu? Seberapa jauh pengetahuan para pengagum ini tentang keberadaan kupu-kupu, siklus hidup dan jenis-jenisnya?


Kesinambungan antara manusia sebagai pelaku pemeliharaan alam dan elemen-elemen keindahan alam sebagai subyek pemeliharaan sudah seharusnya memangku kesetaraan di dalam keseimbangan alam. Kupu-kupu hidup dari telur yang kemudian menetas menjadi larva atau ulat-ulat kecil. Dari sini, ulat-ulat ini akan memakan daun-daunan, sehingga tidak heran jika para pemelihara tanaman merasa terganggu jika mendapati ulat-ulat menjarah kebunnya. Tetapi dengan memusnahkan ulat-ulat ini, maka keseimbangan alam akan terganggu, yang berarti mematok pemusnahan sekian ratus kupu-kupu.


Perlu disadari memelihara ulat kupu-kupu sama halnya dengan memberikan kelayakan panganan kepada anak kecil. Pada siklus ulat, mahluk Tuhan yang paling seksi ini akan sangat rakus memakan dedaunan, karena inilah satu-satunya sumber makanan yang dapat dicerna dengan baik olehnya. Pada ulat-ulat tertentu memilih memakan jenis tumbuhan tertentu pula. Misalnya, untuk kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus) yang merupakan 'tamu' untuk kebun-kebun di Selandia Baru yang selama saya tahu hanya bisa memakan tanaman milkweed atau swan plant (Asciepias Physocarpa) yang mengandung getah putih yang beracun (alternatif lain adalah moth plant yang memiliki tempurung biji berserat namun tanaman ini hanya diberikan kepada ulat-ulat yang berusia 10 hari lebih, begitu juga makanan alternatif seperti labu, courgette, dan ketimun--meskipun ini tidak menjadi rekomendasi oleh Leonie Clunie yang pernah saya hubungi dari Research NZ). Memakan tanaman milkweed ini membuat mereka tidak menjadi incaran burung karena badan mereka mengandung racun. Tetapi memakan ini tidak menghambat manusia untuk melenyapkannya.


Keberadaan ulat di kebun bisa jadi merupakan pemandangan yang menyesakkan, tapi kita perlu melihat dari sisi positifnya bahwa ulat-ulat ini akan menjadi kupu-kupu. Juga perlu melihat jenis ulat seperti apa yang menyerang tanaman, karena ulat hanyalah merupakan salah satu metamorfosis dari sekian tahap siklus hidup kupu-kupu. Jadi, jika Anda menemukan ulat bulu seperti ini atau ini di kebun Anda, please do NOT destroy them! Jika bersikap bijak, anda bisa menghubungi departemen Kehutanan atau orang-orang yang mampu merawat ulat untuk menangkarnya di halaman rumah mereka.


Dari situs-situs tentang penangkaran kupu-kupu saya merasa prihatin dengan keberadaan kupu-kupu di Indonesia. Pengrusakan alam di bawah bendera kemajuan teknologi dan perluasan kawasan wisata bisa menjadi senjata ampuh untuk memusnahkan kupu-kupu dari bumi Indonesia. Jika manusia Indonesia tidak lagi peduli dengan lingkungan, bagaimana jadinya wajah Indonesia yang terkenal dengan “sawah membentang, padi menguning, dan nyiur melambai”?


Di Selandia Baru sendiri banyak situs-situs yang mendedikasikan diri dalam penangkaran kupu-kupu domestik maupun kupu-kupu tamu macam Monarch. Untuk macam-macam kupu-kupu dan sistem ekologinya di Selandia Baru, dapat dilihat di Te Ara: Butterflies and Moths  dan Monarch NZ Trust yang digawangi oleh Jaquie. Begitu banyak orang-orang yang peduli dengan kupu-kupu sehingga patut menjadi contoh bagi teman-teman yang berjuang di Indonesia.


Tanah Indonesia yang kaya akan keindahan alam seakan-akan menjadi surga bagi kupu-kupu untuk berkembang biak, namun situasi ini dapat berubah menjadi bencana jika kita tidak mulai memperhatikan lingkungan kita. Bisa jadi kelalaian manusia memperhatikan lingkungan membetot alam untuk menghajar manusia-manusia yang lalai ini. Bencana-bencana terjadi, seiring dengan siklus dan iklim bumi yang berubah, manusia tidak siap menghadapi karena memang tidak menghiraukan jeritan alam sejak awal. Sekarang alam tidak menghiraukan jeritan manusia. Sudah terlambatkah?


Semua kembali kepada sikap manusia itu sendiri. Jika memang ingin berubah, berubahlah, mulai dari diri sendiri. Mulailah menjawab jeritan alam jika ingin alam mendengarkan jeritanmu.


Blog EntryKaya???Apr 27, '07 10:18 PM
for everyone


Si pedagang es tong tong keliling pernah bilang begini “Mbak enak ya tinggal di rumah gede. Saya mah tinggal di gubuk reot, Mbak. Enak ya jadi orang kaya bla bla bla”. Saat itu aku ga jawab, cuma mendelik.


Seorang tetangga yang sering bolak-balik ke masjid suatu hari mampir ke rumah sambil minta sumbangan untuk masjid memperhatikan ke sekeliling ruangan dan bilang “Bapak pasti banyak duitnya, ya... bla bla bla.” Sekali lagi aku cuma mesem.


Adikku dan temannya bertengkar di luar pagar saat mereka masih kecil, dan adikku lari ke dalam rumah dan menutup pagar. Temannya langsung berteriak “Huh dasar anak orang kaya bla bla bla.”


Aku barangkali bukan termasuk orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus atau upfront tentang pemikiranku tapi cenderung menyimpan pertanyaan2 itu, sampai mengendap, yang biasanya akan keluar lagi lewat puisi atau tulisan-tulisan. Kalau aku termasuk orang yang vokal barangkali udah panjang lebar menentang ide tentang kaya yang dilontarkan orang-orang itu.


Saat itu aku hanya masih remaja sederhana yang tinggal di sebuah rumah tanpa kemewahan seperti layaknya sebuah keberadaan 'luxury' yang glamor dan bergelimangan bling bling. Kalau panas masih kepanasan, kalau mau sekolah musti jalan kaki sampai simpang jalan raya kira-kira 2km dari rumah, baju baru pun cuma beli saat Lebaran, kalo tiba-tiba ujan terpaksa berteduh atau rela kehujanan karena sudah separuh jalan ke rumah tanpa ada supir yang menjemput, dan aku punya uang saku cuma untuk ongkos angkot dan becak. Terus terang, aku tidak hidup berlebihan.


Aku jadi mikir, apa sih ukuran 'kaya' itu? Kok melulu yang dilihat dari materi ya? Apa karena manusia itu memang materialistis?


Aku pernah tinggal di gubuk, di rumah mbah putri almarhumah yang notabene belum ada listrik, sekitar tahun '75-'80an. Masak pun masih pake tungku api yang perlu dihembus2 lewat lubang bambu supaya apinya keluar. Kalo nyetrika masih pake setrikaan arang yang arangnya musti dibakar dulu, baru bisa dipake buat melicinkan pakaian kusut. Kalau tidur di dipan bambu dan musti pake kelambu, supaya nyamuk ga membantai kita habis-habisan, karena saat itu belum ada obat nyamuk elektrik. Obat nyamuk semprot sih aku ga pernah liat mbah putri pake. Ada juga obat nyamuk keong (yang melingkar2 itu loh). Aku pernah memakai bak mandi umum, karena sumur di rumah mbah putri kering. Aku sering mengerek air dari sumur karena saat itu Papa belum beli pompa air dan musti ngirit air. Aku pernah mendorong gerobak air dari rawa-rawa untuk suplai air cuci pakaian, sementara air sumur dipakai untuk masak dan air minum. Aku pernah ngamen bareng temen-temen di studio di bis kota buat ganjal perut karena saat itu kami semua lapar dan ga punya uang buat jajan. Aku pernah jual kartu-kartu ucapan untuk nambahin uang saku supaya aku bisa beli novel dan jajan.


Aku bukan termasuk 'the born rich'. Ga ngerti sebetulnya arti kaya itu sendiri dari sudut material. Kalo aku nyetir BMW, Prius atau Limo apa aku bisa dikategorikan kaya? Kalo aku tinggal di rumah besar, peralatan elektrik berlebihan dengan puluhan pembantu, apa itu yang disebut kaya? Memiliki hektaran tanah dengan ratusan perusahaan, apa itu disebut kaya? Menjadi artis laku keras dengan bejibun penghargaan dan memiliki puluhan rumah atau villa apa disebut kaya?


Kenapa sih ga pernah berpikir kalau 'aku kaya karena aku sehat'? Kesehatan itu merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya, menurutku. Tidak penting buatku menghitung uang setiap hari kalau uang itu pada akhirnya tersedot ke perawatan di rumah sakit atau terapi terus menerus.


Buatku, Allah itu tetap yang Maha Kaya karena Dia memiliki semuanya. Dan Dia tidak pernah iri dan tidak pernah sombong. Kita perlu merasa malu kalau kita menjadi sombong karena merasa lebih kaya dari yang lainnya, padahal harta kita tidak seberapa bandingannya dengan harta Allah (bandingkan sejumlah uang yang kita dapatkan setiap hari, minggu, atau bulan dengan bulan, bintang, matahari, planet, seluruh alam adalah milikNya).


Harta itu cuma titipan, selayaknya dipelihara dan disyukuri. Kesehatan itu anugerah, jadi peliharalah supaya kita bisa lebih bersyukur.


Jadi, syukurilah keberadaan masing-masing. Biarlah yang kaya menjadi kaya, kita yang sederhana musti tetap bersyukur. Asal kita tetap bersyukur dan menikmati kesehatan setiap detik, kita adalah orang-orang yang kaya dan yang penuh rasa syukur. Toh, Allah masih banyak menyimpan kekayaan untuk kita. Kalau kita bersyukur, maka tabungan kita di Akhirat nanti insyaAllah bakal banyak dan kita akan menjadi kaya di Sana (much better, isn't it?). Kalau kita tetap berdoa dan menjalani kebaikan, tabungan kita bakal bertambah dan rumah kita di Sana bakal terang benderang karenanya.


Ini hanya catatan hati, bukan bermaksud menguliahi. Kalau ini menjadi suatu teguran, anggaplah ini sebagai elusan kalbu. Aku pun hanya manusia, masih banyak perlu belajar membenahi iman. Aku pun tidak sempurna, tapi setidaknya aku mengakuinya.




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.