
Si pedagang es
tong tong keliling pernah bilang begini “Mbak enak ya tinggal di
rumah gede. Saya mah tinggal di gubuk reot, Mbak. Enak ya jadi orang
kaya bla
bla bla”. Saat itu aku ga jawab, cuma mendelik.
Seorang tetangga
yang sering bolak-balik ke masjid suatu hari mampir ke rumah sambil
minta sumbangan untuk masjid memperhatikan ke sekeliling ruangan dan
bilang “Bapak pasti banyak duitnya, ya... bla bla
bla.” Sekali lagi aku cuma mesem.
Adikku dan
temannya bertengkar di luar pagar saat mereka masih kecil, dan adikku
lari ke dalam rumah dan menutup pagar. Temannya langsung berteriak
“Huh dasar anak orang kaya bla bla bla.”
Aku barangkali
bukan termasuk orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang bagus
atau upfront tentang pemikiranku tapi cenderung menyimpan pertanyaan2
itu, sampai mengendap, yang biasanya akan keluar lagi lewat puisi
atau tulisan-tulisan. Kalau aku termasuk orang yang vokal barangkali
udah panjang lebar menentang
ide tentang kaya yang dilontarkan orang-orang itu.
Saat itu aku hanya
masih remaja sederhana yang tinggal di sebuah rumah tanpa kemewahan
seperti layaknya sebuah keberadaan 'luxury'
yang glamor dan bergelimangan bling bling. Kalau panas masih
kepanasan, kalau mau sekolah musti jalan kaki sampai simpang jalan
raya kira-kira 2km dari rumah, baju baru pun cuma beli saat Lebaran,
kalo tiba-tiba ujan terpaksa berteduh atau rela kehujanan karena
sudah separuh jalan ke rumah tanpa ada supir yang menjemput, dan aku
punya uang saku cuma untuk ongkos angkot dan becak. Terus terang, aku
tidak hidup berlebihan.
Aku jadi mikir,
apa sih ukuran 'kaya' itu? Kok melulu yang dilihat dari materi ya?
Apa karena manusia itu memang materialistis?
Aku pernah
tinggal di gubuk, di rumah mbah putri almarhumah yang
notabene belum ada listrik,
sekitar tahun '75-'80an. Masak pun
masih pake tungku api yang perlu dihembus2 lewat lubang
bambu supaya apinya keluar. Kalo nyetrika masih pake
setrikaan arang yang arangnya musti dibakar dulu, baru
bisa dipake buat melicinkan pakaian kusut. Kalau tidur
di dipan bambu dan musti pake kelambu, supaya nyamuk ga
membantai kita habis-habisan, karena saat itu belum
ada obat nyamuk elektrik. Obat nyamuk semprot sih aku ga
pernah liat mbah putri pake. Ada juga obat nyamuk keong (yang
melingkar2 itu loh). Aku pernah
memakai bak mandi umum, karena sumur di rumah mbah putri
kering. Aku sering mengerek air dari
sumur karena saat itu Papa belum beli pompa air dan musti
ngirit air. Aku pernah mendorong
gerobak air dari rawa-rawa untuk suplai air cuci pakaian,
sementara air sumur dipakai untuk masak dan air minum. Aku pernah
ngamen bareng temen-temen di studio di bis kota buat
ganjal perut karena saat itu kami
semua lapar dan ga punya uang buat jajan. Aku pernah
jual kartu-kartu ucapan untuk nambahin uang saku supaya
aku bisa beli novel dan jajan.
Aku bukan termasuk
'the born rich'. Ga ngerti sebetulnya arti kaya itu sendiri
dari sudut material. Kalo aku nyetir BMW, Prius atau Limo apa aku
bisa dikategorikan kaya? Kalo aku tinggal di rumah besar, peralatan
elektrik berlebihan dengan puluhan pembantu, apa itu yang disebut
kaya? Memiliki hektaran tanah dengan ratusan perusahaan, apa itu
disebut kaya? Menjadi artis laku keras dengan bejibun penghargaan dan
memiliki puluhan rumah atau villa apa disebut kaya?
Kenapa sih ga
pernah berpikir kalau 'aku
kaya karena aku sehat'? Kesehatan itu merupakan
kekayaan yang tidak ternilai harganya, menurutku. Tidak penting
buatku menghitung uang setiap hari kalau uang itu pada akhirnya
tersedot ke perawatan di rumah sakit atau terapi terus menerus.
Buatku, Allah itu
tetap yang Maha Kaya karena Dia memiliki semuanya. Dan Dia tidak
pernah iri dan tidak pernah sombong. Kita perlu
merasa malu kalau kita menjadi sombong karena merasa lebih
kaya dari yang lainnya, padahal harta kita tidak seberapa
bandingannya dengan harta Allah (bandingkan sejumlah uang yang kita
dapatkan setiap hari, minggu, atau bulan dengan bulan, bintang,
matahari, planet, seluruh alam adalah milikNya).
Harta itu cuma
titipan, selayaknya dipelihara dan disyukuri. Kesehatan itu anugerah,
jadi peliharalah supaya kita bisa lebih bersyukur.
Jadi, syukurilah
keberadaan masing-masing. Biarlah yang kaya menjadi kaya,
kita yang sederhana musti tetap bersyukur. Asal kita tetap bersyukur
dan menikmati kesehatan setiap detik, kita adalah orang-orang yang
kaya dan yang penuh rasa syukur. Toh, Allah masih banyak menyimpan
kekayaan untuk kita. Kalau kita bersyukur, maka tabungan kita di
Akhirat nanti insyaAllah bakal banyak dan kita akan menjadi kaya di
Sana (much better, isn't it?). Kalau kita tetap berdoa dan
menjalani kebaikan, tabungan kita bakal bertambah dan rumah kita di
Sana bakal terang benderang karenanya.
Ini
hanya catatan hati, bukan bermaksud menguliahi. Kalau ini menjadi
suatu teguran, anggaplah ini sebagai elusan kalbu. Aku pun hanya
manusia, masih banyak perlu belajar membenahi iman. Aku pun tidak
sempurna, tapi setidaknya aku mengakuinya.