arfi's posts with tag: education
Saya makin hari makin prihatin dengan harga-harga barang yang makin melonjak naik menjelang Lebaran di tanah air. Di salah satu stasiun TV di Indonesia, ada seorang ibu yang diwawancarai jika biasanya belanja sepuluh ribu rupiah bisa dapet 10 macam sekarang cuma bisa dapet 5 macam saja. Padahal biasanya yang dibeli itu bumbu dapur. Cabe merah naik, bawang merah/putih naik, jahe/lengkuas naik, yaaa apa-apa naik, belum lagi harga beras, minyak goreng, kacang tanah, dan lain-lainnya. Gimana bisa Lebaranan tanpa ngutang ya kalo begini caranya.
Kalau kita lihat secara utuh, keperluan bumbu-bumbu dapur itu merupakan kebutuhan yang esensial di dapur Indonesia. Coba bayangin, dapur mana sih yang tidak menggunakan bumbu2 dapur berempah di Indonesia? Coba bayangin juga, rasanya seneng banget ya kalo bisa menanam apotek hidup itu di rumah sendiri, jadi jika memerlukan bahan-bahan tersebut, tinggal petik! Jika harga bumbu2 dapur naik kan biaya yang tadinya untuk bumbu2 itu bisa dialihkan ke biaya yang lain.
Have you got the point?
Tapi, selaluuuuu aja ada alasan (pasti) tidak pandai berkebun, don't have green thumbs, ga punya waktu, lahan ga luas. Bu, yang penting niat dan kemauan, semua pasti ada jalannya.
Contohnya, ga punya lahan luas, bisa memakai pot sebagai lahan tanam. Pot kan ga musti beli, pakai aja dari kaleng bekas susu, bekas biskuit, atau bekas ban mobil, yang ada di sekitar kita ga dipakai lagi, deh. Atau kalau rajin bisa bikin trough atau pot bunga dari kayu, ya segi panjang atau kubus, bagus juga sebagai lahan tanam. Apalagi kalo luarnya sampai dicat warna-warni, indah juga ya! Pake ranting-ranting tanaman yang dijalin atau disusun di sekeliling media tanam juga bagus, Bu. Yang penting kreatif, deh.
Masalah tanah yang penting adalah kompos. Ibu, sampah bekas daun, bekas ngupas jahe, kulit bawang, serutan kulit wortel/kentang dan sebagainya itu kan bisa dijadikan kompos. Kalau mau serius, bisa membuat satu kotak sampah untuk kompos di halaman belakang. Sampah dari dapur itu bisa dimasukkan di sana, beri lapisan tanah (bagusnya kalau tanahnya mengandung banyak cacing karena cacing2 inilah yang nantinya membantu 'memakan' sampah2 tersebut bersamaan dengan mahluk-mahluk kecil sahabat kompos yang disebut mikroorganisme), lalu jangan lupa ditutup. Begitu terus jika Ibu-ibu punya sampah dapur lagi tumpahkan ke kotak kompos lalu timbun dengan satu lapisan tanah, sampai kotak penuh. Kalau sudah penuh, Ibu atau tukang kebun atau bisa melibatkan seluruh keluarga bisa bergantian membalik-balik sampah dan tanah tadi yang didiamkan beberapa minggu. Dan kalau suatu hari Ibu melihat kotak kompos Ibu berisi tanah yang hitam, berarti Ibu sudah berhasil membuat kompos sendiri dan kompos sudah siap digunakan, Bu!
Selain dengan cara di atas, Ibu juga bisa mengubur sampah dapur di dalam tanah yang kemudian ditutup lagi, lalu tanami atasnya dengan apotek hidup. Gampang kan, Bu? Ini kan salah satu cara untuk mengurangi beban sampah kota, Bu! Jika dimulai dari Ibu, lalu sudah berapa banyak rumah tangga yang akhirnya menyelamatkan Indonesia dan memperbaiki lapisan Ozone di atas sana hingga dapat menyelamatkan dunia dari ancaman global warming? Kita kan tidak mau anak-anak kita mengalaminya, aduh, seram membayangkan anak-anak harus merasakan akibatnya! Sementara kita masih bisa setidaknya memperlambat lapisan itu makin menipis dengan membangun kembali reboisasi, mulai dari rumah tangga kita, Bu. Jika dimulai dari kita dan menjadi kebiasaan di lingkungan, anak-anak pun akan terbiasa memelihara dan merawat lingkungan, insyaAllah, Bu jasa Ibu akan selalu mendapatkan tempat di hati mereka. Kita juga membantu bumi kita ini tetap hijau, Ibu! Mulai dari kita, Bu, mulai dari kita!
Oke, gimana dengan tanamannya, kan musti beli bibit? Lah iya, semua tanaman kan musti dimulai dari bibit. Tapi tergantung dengan apa yang ditanam juga sih, Bu, ga semua musti beli dari nurseries. Kalau Ibu mau tanam bawang putih, coba ambil salah satu siung bawang putih dari induknya, lalu iris. Jika Ibu menemukan tunas hijau di dalam bawang putih tersebut, berarti Ibu sudah menemukan bibit bawang putih yang sudah siap ditanam. Tunas berwarna hijau itulah yang nantinya akan menjadi induk dari siung-siung bawang putih berikutnya. Begitu juga dengan bawang merah, bawang bombay atau bawang merah Spanyol, Bu. Nah, Ibu tinggal menanamnya di dalam pot-pot Ibu atau di pekarangan rumah Ibu, di sela-sela tanaman mawar Ibu, atau tanaman-tanaman apotek hidup lainnya.
Kalau mau tanah sereh, bisa dengan merendam sereh hingga akarnya kelihatan keluar dari bawah. Sereh siap tanam, deh. Atau bisa saja Ibu langsung menanamnya di pekarangan yang sudah diberi pupuk kompos tadi, Bu. Ibu bisa bereksperimen sendiri, misalnya dengan menanam beberapa apotek hidup berdampingan, seperti sereh, jahe, lengkuas, cabe, dan kunyit.
Untuk apotek-apotek hidup berakar seperti jahe dan lengkuas, jika tanahnya sudah gembur, bisa langsung ditanam di pekarangan, Bu. Kan mereka suka dengan suhu udara tropis, pasti cepat deh tumbuhnya. Asal rajin menyiram saja, Bu.
Ya kalo Ibu tidak sempat menyiram, kan bisa giliran dengan anak-anak Ibu, tukang kebun Ibu (jika ada, Bu), atau suami Ibu, semua dilibatkan, toh ini juga kan untuk keluarga.
Kalau Ibu antusias, Ibu juga bisa kok menanam tomat dan cabe. Bibitnya bisa diambil dari tomat-tomat atau cabe-cabe yang Ibu beli di pasar-pasar. Untuk menjadikan bibit, buahnya dibiarkan kering dulu, Bu baru bisa disebar. Atau kalau Ibu mau sih beli saja Bu bibit-bibitnya di toko tanaman khusus, ada ga ya di Indonesia? Pasti ada kan nurseries semacam itu?
Jika sudah maju, Ibu bisa menanam kacang panjang, buncis, singkong, aduh semua deh Bu! Jadi, biaya untuk belanja sayuran kan jadi tidak terlalu padat lagi, Bu. Ibu tinggal memetiknya di kebun sendiri, senang kan Bu?
Waaaahhh, aku ga suka cacing, takuuutt!! Aduh, Bu, cacing itu kan tidak menggigit. Coba pikir lagi, gedean mana cacing sama Ibu? Coba Ibu jadi cacing, pasti cacing udah takut banget sama Ibu, wong Ibu disangka raksasa hehehe... Kalo memang ga mau tangannya kotor ya pake sarung tangan dong, Bu. Kan ada sarung tangan untuk berkebun (gardening gloves). Lagipula kan kalo tangan kotor ya tinggal dicuci pake sabun anti kuman dan air yang bersih, kan tangan bisa dipake lagi.
Trus, kalau tanamannya terserang penyakit, gimana? Biasanya tanaman apotek hidup tidak sering-sering dihinggapi penyakit, paling-paling kalo jahe misalnya akan mati jika terlalu banyak disiram, karena bisa menyebabkan akarnya busuk di dalam. Lagipula, Ibu bisa saja mengkonsultasikan masalah penyakit tanaman kepada orang-orang pertanian. Dengan begitu Ibu makin banyak dan luas pergaulannya, dari berbagai kalangan, jangan cuma kalangan jet set aja ah, Bu!
Memang semuanya membutuhkan waktu dan kerja keras karena tanaman tidak akan tumbuh jika kemauan Ibu separuh jalan. Tapi kepuasannya sangat berharga. Ibu jadi lebih dekat dengan alam, dan anak-anak juga belajar mengenal alam (jadi ga terlalu banyak nonton TV atau main video games, sambil nyemil pula, bahaya, kalo ga hati-hati bisa obessed! Hiiiii...!!), Ibu juga makin segar dengan berolah-raga berkebun menyegarkan paru-paru Ibu, pekarangan rumah tidak hanya cantik tapi bermanfaat. Perasaan hati ga bisa dilukiskan kebahagiaannya jika melihat tanaman tumbuh dari nothing to something. Ibu, nanti Ibu merasakan sendiri, deh.
Selamat bekerja keras, Ibu: do the best for your family!
Disclaimer: It's not a subject to disrespect the work of farmers globally. It is the subject of being creative and helping a household managing their financial balance to something more useful than just to spending so much while one should be able to be self-sufficient, moreover, it is a way for the children to learn where the foods are from (they're from the plants, darling, not from the supermarket).
Ini hasil kerjaku belakangan ini. Membuat alphabet trace untuk Ben dan Sarah. Mereka sudah memberikan tanda-tanda ingin menulis ga sekedar coret-coret. Ben terutama. Dia kan mau masuk TK gede akhir tahun ini, jadi dia sepertinya sudah siap. Sarah sih masih suka coret sana coret ini.
Peta alfabet ini membimbing tangan mereka supaya luwes memainkan pena atau pensil. Mengikuti anak panah, kita sebagai orang tua musti memberi contoh dulu, iya lah! Lalu kalo mereka sudah terbiasa, mereka bisa mencoba menulisnya mengikuti titik-titik sehingga akan membentuk huruf2 itu.
Mudah-mudahan ini bisa menjadi ide untuk temen-temen yang anak-anaknya seusia Ben dan Sarah ya. Tapi satu pesanku: jangan paksa anak-anak untuk menulis kalau sedang tidak mau. Ajak dengan lembut, bukan dengan bentakan atau ancaman. Anak-anak itu kan punya masanya sendiri.
Selamat berkarya!
Bilingualism
Bingung ga sih ngegedein anak dengan dua bahasa, dua budaya?
Pengalamanku saat ini masih susah2 gampang. Ini bacaan
bagus untuk disimak. Dari sini bisa ditelusuri lebih jauh artikel2
terkait lainnya. Ini web favoritku saat masih ngejar master di PPS UPI
Bandung tempo hari, penuh informasi dan berguna banged.
Semoga bermanfaat ya.
| |