
Waktu pertama kali membeli ayam, kami hanya memulai dengan 13 ekor
ayam yang hanya
diberi harga NZD 1 untuk semuanya. Yang empunya udah
empet lihat ayam-ayam berkeliaran di kebunnya dan sudah tidak mau
lagi memelihara ayam. Tapi kami tidak tahu jenis apa ayam-ayam
tersebut, jadi tidak bisa merekam hibrida
mana yang musti dipelihara.
Minggu-minggu pertama menginap di rumah baru mereka, belum banyak
telur yang diproduksi. Kami mulai bertanya-tanya, suburkah
pejantannya? Hingga akhir Musim Dingin 2004, mereka hanya memproduksi
2-5 butir saja. Tampaknya setelah masa adaptasinya berakhir, lama
kelamaan produksi telur meningkat dengan rata-rata produksi telur
paling sedikit 8 butir per hari. Dari hasil pengamatan kami,
ayam-ayam ini akan sering bertelur saat Musim Dingin, dan akan
berkurang produksi telurnya saat Musim Panas.
Setelah beberapa bulan menetap di rumah baru, beberapa ayam betina
mulai menunjukkan tanda-tanda akan mengeram, sementara saat itu kami
tidak mengetahui hibrida apa ayam-ayam yang kami beli pertama kali.
Akhirnya, kami memutuskan untuk memulai hibrida ayam yang jenisnya
jelas. Untuk sementara waktu, kami hanya memberi telur-telur yang
diproduksi oleh mereka sendiri untuk dierami.
Kami melakukan perjalanan ke Waiuku, sekitar 2 jam dari rumah
menuju ke peternakan ayam yang dikelola oleh Christine setelah
beberapa kali kontak lewat email. Peternakannya sendiri termasuk
home-business dan tidak dijual dalam skala besar. Beliau juga menjual
mullet atau anak-anak ayam untuk pasokan ke peternakan-peternakan
lain atau peternakan yang memasok kebutuhan daging di pasar-pasar.
Setelah berkeliling beberapa kali, kangmas dan aku rembugan ayam mana
yang kira-kira bagus sifatnya dan banyak produksinya. Akhirnya kami
memilih Plymouth Babrock, Araucauna, New Hampshire
Red, dan Rhode Island.
Jadilah telur-telur itu dierami oleh induk-induk ayam dari hibrida
berbeda yang mulai satu per satu going clucky (mulai masa
mengeram). Alhasil dari sejumlah ayam betina yang dibeli dan sebagian
besar mengeram, akhirnya kami masih harus membeli telur di pasar
untuk kebutuhan rumah tangga, karena produksinya tentu saja menurun.
Ayam-ayam betina yang sudah banyak memproduksi memilih untuk
mengeram, sedangkan beberapa ayam betina yang masih remaja belum
berproduksi.
Setelah telur menetas satu demi satu, dari situ kami memulai
memelihara ayam hibrida. Tidak dalam waktu singkat. Karena dari
beberapa telur yang dibeli dan dikira fertile, ternyata ada
banyak juga yang gagal menetas. Untuk jenis Rhode Island,
hanya ada 4 ekor yang menetas dan keempatnya ternyata jantan semua.
Karena tidak ada pasangan, akhirnya kami harus menyembelih keempatnya. Lumayan, buat pasokan daging halal.
Ketiga jenis hibrida lainnya sukses hingga sekarang. Mulai dari
situ kami mempelajari jenis-jenis ayam ini. Dari sifat dasar hingga
kebutuhan makanan dan minumannya setiap hari sangat beragam.
Jenis Babrock yang memiliki bulu bergaris-garis ini
merupakan pilihanku di daftar paling atas. Jenis ayamnya berbadan
besar dan gampang jinak. Bentuk telurnya pun berbeda dengan telur
ayam kebanyakan, dengan ukuran yang beragam tergantung dengan muda
atau dewasanya si ayam betina. Kulit telurnya berbintik-bintik coklat
halus dan gampang sekali membedakannya dengan telur-telur yang lain.
Namun sayangnya, pelit produksi. Sampai sekarang kami masih hanya
menerima 1 atau dua butir telur saja per lima hingga 7 hari. Anehnya,
kalau dierami telur-telurnya sangat sukses menetas. Jumlah ayam jenis
ini yang tadinya hanya 4 ekor, sekarang bakal menjadi lebih dari 10
ekor kalau melihat anak-anak ayam yang sedang dirawat induknya di
rumah masing-masing. Ada satu hal yang harus tidak dilakukan saat
mendekati ayam jantan Babrock: jangan pakai baju yang
bergaris-garis atau batik, karena dia akan berubah agresif.
Barangkali disangka rivalnya. Aku pernah memakai baju dari Kalimantan
itu dan bercorak banyak. Aku ditendang dari belakang oleh si
pejantan. Hari berikutnya aku ke sana lagi pakai kaos putih, dia
tidak apa-apa. Kejadian lagi, saat Ben mau kasih makan mereka, dia
pakai baju batik dari Bali. Dia pun kena tendang. Besoknya saat pakai
baju non-batik, pejantannya kalem aja.

Jenis Araucauna ini berwarna abu-abu dan sangat penakut.
Suka ngacir kalo didekati. Karena bentuk badannya yang kecil dan
ringan, gesit sekali gerakannya. Dari sekian banyak jenis ayam ini,
hanya satu atau dua ekor yang bisa didekati, hanya karena ketika
masih kecil suka dielus-elus sama anak-anak. Telur ayam ini berwaran
biru muda. Termasuk kecil untuk ukuran telur biasa. Paling juga di
bawah size 6 (ukuran telur @60g standard NZ). Tapi sesekali kami
menemukan telur-telur yang lumayan gemuk, kalau dilihat dari ukuran
badan ayam kelihatannya kok terlalu besar. Sepertinya makin dewasa si
ayam betina, makin besar telurnya. Ayam-ayam ini termasuk yang paling
banyak jumlahnya di peternakan kami, karena memang
pejantan-pejantannya subur. Jadi kalau telur-telur ini dieramkan, 99%
akan menetas sempurna. Anehnya, menurut observasiku selami ini, putih
telur dari ayam ini lebih banyak daripada kuningnya yang relatif
mungil. Sampai saat ini, jumlah jenis ayam ini lebih dari 20 ekor dan
sudah ada yang memesan 6 ekor ayam ini untuk 6 bulan ke depan sudah
siap bertelur.
Jenis New Hampshire Red ini merupakan jenis hibrida yang
paling populer di kalangan peternak ayam di NZ. Mereka merupakan ayam
petelur sejati. Mereka memproduksi telur2 yang relatif besar dari 60g
hingga lebih dari 70g. Juga tidak pelit produksinya. Setiap hari dari
tiga ayam betina dewasa dapat memberi 2 bahkan 3 telur per hari.
Bayangkan kalau mempunyai 100 ekor ayam betina, produksi telur
bisa-bisa sebanyak jumlah ayam betina tersebut! Barangkali karena
alasan itu banyak orang memilih ayam ini untuk diternakkan. Selain
itu, ayam-ayam ini tidak termasuk ayam-ayam yang bersifat agresif,
dan lebih gampang diatur. Dari jenis ini ayam betina dewasa hanya
berjumlah 3 ekor, sedangkan yang kecil ada lebih dari 10 ekor.
Jenis-jenis ayam yang lainnya masih dicampur dengan keluarga ayam
jenis hibrida yang tidak terekam sebelumnya. Masing-masing karena
kami mempertahankan induk hibrida jenis tertentu sementara dia tidak
ada pejantannya. Untuk sementara dicampur dulu, selagi kami mencari
informasi lagi tentang jenis ayam-ayam hibrida ini.
Memberi makan dan minum mereka merupakan kegiatan yang sangat kami
sukai, biarpun diakui atau tidak. Mereka sudah menjadi bagian dari
keluarga, bagian dari tanah kami, yang ikut memberi kebutuhan makanan
melalui produksi mereka. Selayaknya lah kami merawat mereka. Saat
memberi makan, kami harus selalu mengganti air minum mereka. Apalagi
cuaca sedang panas seperti sekarang ini, mereka suka banyak minum.
Kandang juga dibersihkan secara berkala, tergantung dengan keadaan
dan kondisinya. Tapi kami memerlukan pemeriksaan setiap minggu, kalau
sudah banyak kotoran, maka harus disapu, lalu diganti jeraminya.
Ayam-ayam yang sedang mengeram kami beri kandang sendiri supaya
tidak mengganggu ayam-ayam yang akan bertelur. Begitu juga setiap
hibrida, mereka memilki kandang-kandang sendiri. Untuk memberi mereka
keleluasaan bergerak, kami selalu membebaskan mereka berkeliaran di
padang rumput. Untuk ayam-ayam hibrida yang kebetulan sharing halaman
belakang, harus bergantian hari keluar kandangnya. Kalau tidak, bakal
terjadi adu taji!