arfi's posts with tag: note

Waktu ketemu pertama kali sama kangmas aku ingat beliau pernah bilang begini: "i like the way you touch things" sambil matanya liat ke arah tanganku. Aku saat itu cuma senyum kali, tapi ga yakin apa maksudnya. Ternyata beliau pada akhirnya bilang kalo merasa klop karena beliau melihat ada kesan 'jungle girl' di diriku alias anak kampung bow!
Ya lah. Aku lahir dan dibesarkan di pinggiran hutan. Aku masih ingat saat masih kecil banget, aku masih punya satu adik, dan adikku yang nomor tiga belum lahir, kami tinggal di rumah yang satu kampung perumahan dipagari pake pagar kawat tinggiiiiii banget. Atasnya itu dikasih kawat duri pula. Di kampung perumahan ini sepertinya masih ada di daerah yang jauuuuh banget dari Palembang, namanya Pengabuan. Dulu tempat ini salah satu tempat pemboran perusahaan PT Stanvac Indonesia almarhum, dimana Papa kerja (Mbak Esti pasti ngerti deh, karena mbak Esti pernah tinggal dan kerja di Pendopo). Saat masih di Pengabuan, kami musti diangkut pake bis ke sekolah. Saat itu, kata Ibunda, aku masih 4.5 tahun tapi udah lancar baca, ngotot mau sekolah ikutan Mbak Sari, anaknya Pakde Ibrahim, salah satu temen mainku di kampung. Karena di kampung ga ada TK (sekitar tahun 70an-aku lahir Juli 71), aku disetujui jadi 'anak bawang' di kelas. Pernah satu hari, giliran tanteku yang nganterin pake bis ke sekolah, bis kami terbalik. Aku dihimpit tanteku yang notabene gemuk. Saat ini aku ga bisa inget rasanya tapi aku masih inget penumpang lain yang menghimpit aku. Bibirku pecah kena bentur besi dan musti dijahit. Jahitannya baru lepas saat aku pindah ke Pendopo. Ga ngerti kelas berapa.
Di Pendopo, pertama kali pindah, kami dapat rumah yang berhimpitan satu sama lain, disebut tangsi. Namanya tangsi Kopra-Kopra. Ga ngerti kenapa disebut begitu. Di situ ada pohon mangga besar dan rimbun. Kalau berbuah, aku, adik-adik (saat itu adikku baru dua) dan temen-temen tetangga suka berebutan naik pohon. Metik mangga, trus dimakan di atas pohon saat itu juga. Pernah temenku melorot turun dari pohon sambil jerit-jerit. Saat gigit mangga, dia ga liat kalo ada kerangga (semut merah yang gede suka di atas pohon), jadi dia yang digigit semut!
Di tangsi ini pula aku sudah ngerti yang namanya berkebun. Papa dan Ibundaku suka berkebun. Tanah pekarangan dan lahan miring di bawah pohon mangga penuh dengan bunga dan sayuran. Di pekarang, bunga yang ditanam bunga sepatu, melati, dan puring. Di kebun selalu ada mentimun, labu siam, kisik (apa ya nama bahasa Indonesianya?), terong, singkong, ubi jalar, tebu, dan paria. Bayam kadang-kadang suka ada begitu saja, ga tahu apa ditanam apa ga karena kadang2 tumbuh seperti tanaman liar.
Setelah Papa dapat promosi naik jabatan, kami pindah ke perumahan bagian dalam. Namanya Camp Dalam. Saat mau sekolah, Papa dipeluk2 sama Ibunda, tapi aku ga ngerti kenapa. Temenku, Trisa yang bocorin rahasianya. Ngasih selamat ke aku kalo Papa diangkat jadi pegawai staff. Makanya kami pindah ke perumahan para pegawai staff. Apa pula itu maksudnya aku ga ngerti. Sejak itu temanku berputar lagi dan bertambah banyak. Saat masih tinggal di tangsi, aku ga kenal sama anak-anak dari perumahan camp dalam. Sekarang menjadi bagian dari mereka, akhirnya aku kenal satu persatu. Tapi aku masih suka main ke tangsi, naik sepeda atau jalan kaki. Ada beberapa temanku di tangsi yang ogah main sama aku lagi, karena aku sekarang anak camp dalam, bukan anak tangsi lagi. Saat itu aku sedih, tapi akhirnya kami berteman lagi karena aku bandel masih suka main ke tangsi.
Baru mengakhiri semester satu di esempe negeri di Pendopo, Papa ditugaskan ke Lirik, Riau. Sebuah lokasi perminyakan juga. Dan kami masih bertempat di camp dalam. Di sini lokasi perumahannya jauh-jauh. Bayangkan, halaman depan rumahku saat itu seluas lapangan sepak bola, yang ditanami beberapa rumpun bunga asoka warna merah dan oranye. Di sepanjang tangga menuju ke jalan depan rumah, ditanami bunga sedap malam. Ada pohon kamboja yang sekarat di depan dapur. Aku pernah bergelayutan di cabangnya, tiba2 krek krek! Aku ikutan ambruk ke tanah ditimpa batang kamboja kering. Adikku terkekeh2 sementara aku meringis2. Dasar, bukannya nulungin!
Di esempe negeri Lirik, ada pelajaran prakarya yang mengharuskan kami mencari rotan di pinggiran hutan dekat salah satu lokasi pengeboran minyak. Aku waktu itu bersepeda dengan teman2 satu kelas. Asyik masuk hutan, dan akhirnya kejeblos di lumpur. Tapi keluar dari hutan masing2 dapat rotan fresh dari pohonnya. Saat itu aku baru tahu dan mengalami sendiri gimana caranya menuai rotan!
See? I'm really a jungle girl hehehe... Barangkali aku memang ditakdirkan untuk tinggal di hutan. Buktinya sekarang, aku masih tinggal di daerah perbukitan yang notabene rural banget. Aku jauh dari kesan glamour atau party girl...halah...malah ga suka party-party-an apalagi kalo dah berbau alkohol! huaaaa!!! lariiii!!!!!
Mum bilang aku 'sloppy', ga fashionable dan ga pernah pake make-up. Aku memang pada dasarnya ga suka hias menghias tubuh, tapi aku merawat badanku. Aku pake masker, aku luluran, meskipun ga sering ke salon.
Aku ga suka pakai perhiasan. Dulu, ibunda kalo Lebaran selalu maksa2 aku pake cincin, gelang dan kalung. Aku sering menolak tapi akhirnya nunut karena dipelototin, juga kasihan soalnya Ibunda bikin perhiasan itu untukku (di Pendopo, ada emas Jawa yang didagangkan sesuai dengan selera). Sekarang semua perhiasan diserahkan ke aku dan ga kemana-mana selain di dalam lemari. Siapa yang mau pake? Aku ga mau. Di tubuhku selain cincin kawin, aku ga pake perhiasan apa-apa lagi. Aneh ga sih?
Soal make up. Aduh, jauh deh aku kalo soal yang ini. Pake lipstik pun udah sukur aku mau dan bisa hehehe... Meskipun begitu, aku ada kok peralatan make-up, blush-on, eye shadow whatever. Tapi ya itu disimpennya lamaaaaaaaa sampe kalo ada kondangan baru dipake.
Sisi kewanitaan yang paling sering aku pakai adalah parfum. Aku suka wangi. Berkebunpun aku pake parfum, atau paling ga eau de cologne. Tapi aku ga suka parfum2 yang menyengat banget. Favoritku ya Hugo Boss Women. Harumnya benar2 feminim dan sayup2. Ga nyeleneh di hidung. Kesannya sejuk gitu. Dan aku sering dapat hadiah parfum. Belakangan ini dari Mbak iparku, koleksi parfumku yang terakhir dari Guerlain. Mbuh apa judule ga weruh. Aku suka wanginya.
Adakah jungle girl yang lain? Hayoooo ngakuuuuuuuuu!!

beberapa minggu yang lalu, saat aku lagi masak di dapur, sore hari sekitar jam 4, sebuah mobil sedan meluncur masuk ke driveway. aku lihat ada 4 penumpang dan salah satu dari mereka turun dan say hello. aku matikan api gas, menyambut. aku ga kenal mereka. bukan salah satu tetangga atau teman. totally strangers.
the lady asked me if it was alright for them to look around the house and she began explaining to me that her mother used to come in this house when she was 5 years old. i was really surprised. she introduced herself as wendy. and i rode on my gumboots and met the old lady. she was 80 years old, and she was just recovered from stroke. she was still a bit trembling and had to support herself with a crutch.
she began telling me the story about her uncle who used to live here, the same place we are living. he used to be a butcher and she still recognized the building where the the killing used to take place. it is now our shed. she still remembered the original building of the house and she still remembered how cold it was.
so i invited them to come inside the house and had a look at the rooms. she and her daughter said thank you to me many times as i allowed them to visit. the old lady could tell that we've done so many alterations as the rooms she used to see were gone, but the main bedroom and two spare rooms remain the same. she said she used to sleep in one of the spare rooms.
she was only 5 and she lived in auckland. she only visited her uncle for a holiday on the farm. and she definitely had a lovely memorable childhood in this house. she had had sickness for a long time, and she was wondering why the only thing she remembers is this house, the location, and rooftop, the butcher shed and the garage. it is amazing, given that how sick she was, but she still was able to track back the road, far down from albany, to onehwero, south auckland. it was a long long journey. and she still remember that there was a post office near the fire brigade station, which is now gone.
i was really stunt of how far she and her family tracking down to see if this house does still exist.
and then yesterday, a package arrived, with B Philips as the sender. we could not remember if we had any relatives in albany. somebody forgotten to write our names, but the address is ours. we opened the package and there were two little darling parcels, one wrapped in pink and the other wrapped in gray with either ribbons of both gifts. as we opened, my mind was hovering somewhere, looking for a connection of B Philips and albany. the gifts were definitely meant for ben and sarah. ben got a VW toy, it was blue. and sarah got a bag of rubber ducks with assorted colors and a girl swimming which resembles herself. then we were talking about who the sender was, and then click! it must be the old lady. she introduced herself as Betty Philips. i cried at the moment i knew it was from her. how wonderful it was. and how she appreciated of my inviting her to come in and looking around the farm just for her to know that her uncle's spirit is still here.
there is always kind people out there. there is.

| |